Kamis, 15 Juni 2017

Macam Zakat dan Cara Penghitungannya

 Macam Zakat dan Cara Penghitungannya
 Macam Zakat dan Cara Penghitungannya

Zakat adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat muslim, seperti yang tertuang dalam firman Allah: “Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat“. (Surat An Nur 24 : 56).

Ada beberapa macam zakat dan cara penghitungannya yang sudah diatur dalam Islam, yaitu:

Zakat Fitrah

Bentuk zakat fitrah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya. Para ulama mengatakan bahwa kadar wajib zakat fitrah adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat fitrah kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis) sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’ yaitu seukuran empat cakupan penuh telapak tangan yang sedang . Ukuran satu sho’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg. Ulama lainnya mengatakan bahwa satu sho’ kira-kira 2,157 kg. Maksudnya jika zakat fitrah dikeluarkan 2,5 kg seperti kebiasan di negeri kita, sudah dianggap sah.
Waktu pembayaran zakat fitrah ada dua macam: (1) waktu yang paling baik yaitu mulai dari terbit fajar pada hari idul fitri hingga dekat waktu pelaksanaan shalat ied; (2) waktu yang dibolehkan yaitu satu atau dua hari sebelum ied sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Ibnu Umar.

Zakat Maal/Zakat Harta

Zakat harta berupa hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak. Cara penghitungannya diantaranya:
Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat adalah sebagai berikut:
Islam
Merdeka
Berakal dan baligh
Memiliki nishab
Nishab adalah ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh agama untuk menjadi pedoman menentukan kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya, jika telah sampai ukuran tersebut. Orang yang memiliki harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat.

Syarat-syarat nishab adalah:

1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.

2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab. 

Kecuali zakat pertanian dan buah-buahan, karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil pada saat panen, sama juga dengan zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.

Misalnya, jika seorang muslim memiliki 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat karena nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian jika kambing-kambing tersebut berkembang biak sampai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun setelah sempurna nishab tersebut.

1. Nishab emas

Nishab emas sebanyak 20 dinar. 
1 dinar = 4,25 gr emas
Jadi, 20 dinar = 85gr emas murni.

Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Jika lebih dari nishab dan belum sampai pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. 

Contoh:
Seseorang memiliki 87 gr emas yang disimpan. Maka jika telah sampai haulnya wajib mengeluarkan zakat, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.

2. Nishab perak

Nishab perak adalah 200 dirham. Setara dengan 595 gr, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.


0 komentar:

Posting Komentar